HomeCake with Name

And Then There Were None Sub Indo ((top)) Review

The story begins with ten strangers, each with a dark secret in their past, receiving an invitation to stay at an isolated island off the coast of Devon, England. The island, known as Indian Island, seems like the perfect place for a relaxing getaway, but things quickly take a deadly turn. The guests soon discover that they are trapped on the island, with no way to communicate with the outside world. As the days pass, the guests begin to die off, one by one, in a manner that seems to be connected to a nursery rhyme, "Ten Little Indians".

Hakim Wargrave, otak di balik pembantaian ini, memandang dirinya sebagai agen keadilan mutlak. Ia percaya bahwa hukum manusia terlalu lemah dan penuh celah. Dengan mengumpulkan para "pelaku dosa" ini, ia bertindak sebagai eksekutor divisi moral. Namun, Christie dengan cerdik memperlihatkan ironi dari tindakan Wargrave. Untuk menegakkan "keadilan" tersebut, ia harus menjadi pembunuh berantai yang lebih kejam dari para korbannya. Ini menciptakan paradoks moral: apakah hukuman mati yang dijatuhkan tanpa proses pengadilan (vigilantisme) dapat dibenarkan? Novel ini tidak memberikan jawaban mudah, melainkan memaksa pembaca untuk merasa tidak nyaman dengan simpati mereka terhadap korban-korban yang sebenarnya adalah penjahat.

Cerita dibuka dengan premis yang kini telah menjadi klise dalam genre thriller, namun pada masanya sangat revolusioner: sepuluh orang asing dengan latar belakang yang berbeda diundang ke sebuah pulau terpencil di lepas pantai Devon, Inggris, bernama Pulau Nigger (dalam edisi modern diubah menjadi Pulau Skeleton). Mereka diundang oleh tuan rumah yang misterius, Ulick Norman Owen (inisial U.N. Owen, yang terdengar seperti "Unknown"), yang tidak kunjung muncul. and then there were none sub indo

| English Name | Sub Indo Name | | :--- | :--- | | Justice Wargrave | Hakim Wargrave | | Vera Claythorne | Vera Claythorne | | Philip Lombard | Philip Lombard | | Dr. Armstrong | Dr. Armstrong | | Emily Brent | Emily Brent | | General Macarthur | Jenderal Macarthur | | Anthony Marston | Anthony Marston | | William Blore | William Blore | | Thomas Rogers | Thomas Rogers | | Ethel Rogers | Ethel Rogers |

Berbeda dengan kebanyakan novel misteri tradisional yang diakhiri dengan penangkapan pelaku dan pemulihan ketertiban, And Then There Were None berakhir dengan kehampaan. Semua orang di pulau mati. The story begins with ten strangers, each with

Dalam epilog yang terungkap melalui surat tulisan tangan Wargrave yang ditemukan di laut, pembaca diperlihatkan motivasi si pembunuh. Wargrave mengakui bahwa ia memiliki dorongan ingin membunuh namun juga memiliki hati nurani yang kuat terhadap keadilan. Ia menciptakan "seni pembunuhan" yang sempurna. Akhir ini meninggalkan rasa ngeri yang mendalam, bukan karena adanya monster yang lolos, melainkan karena kita menyadari bahwa kejahatan yang begitu terorganisir dan logis dapat lahir dari pikiran manusia yang terpelajar dan dihormati.

Anda dapat menemukan miniseri atau film ini di berbagai platform streaming resmi maupun situs komunitas dengan ketersediaan takarir bahasa Indonesia: And Then There Were None (1945) - IMDb As the days pass, the guests begin to

Dari segi teknis penulisan, Christie melakukan sesuatu yang sangat berani. Dalam buku petunjuk penulis misteri ("Twenty Rules for Writing Detective Stories" oleh S.S. Van Dine), aturan ke-11 menyatakan bahwa pembantu atau detektif tidak boleh menjadi pelaku kejahatan. Christie melanggar konvensi ini dengan menjadikan Hakim Wargrave sebagai pelakunya.

Struktur novel ini sangat ketat. Christie membangun ketegangan dengan cara mengurangi jumlah karakter secara sistematis. Setiap kematian bukan hanya mengurangi jumlah tersangka, tetapi juga meningkatkan rasa takut kolektif. Tidak ada detektif profesional seperti Hercule Poirot atau Miss Marple yang hadir untuk menyelamatkan hari; pembaca dipaksa untuk menjadi detektif sekaligus menjadi saksi bisu teror psikologis para karakter.

The Indonesian translation, "Dan Kemudian Tak Ada Lagi", was first published in 1977 and has since become a bestseller in the country. The translation, done by renowned Indonesian translator, H. B. Jassin, has been praised for its accuracy and faithfulness to the original text. The novel's popularity in Indonesia can be attributed to the country's love for mystery and suspense stories, as well as the universal appeal of Christie's masterful storytelling.

Selain itu, novel ini berbicara tentang ketidakpastian keadilan. Banyak orang merasa sistem hukum tidak adil, mirip dengan apa yang dirasakan oleh korban-korban Wargrave (mereka yang lolos dari hukum). Novel ini adalah peringatan akan bahaya ketika individu mengambil alih hukum ke tangannya sendiri, tetapi juga mengakui ketidakpuasan manusia terhadap ketidakadilan.